Magister Ekonomi Syariah

Sekretaris Prodi Magister Ekonomi Syariah Ikuti TOT Kurikulum Ekoteologis dan Kurikulum Cinta

Pekanbaru — Program Studi Magister Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau mengutus Sekretaris Program Studi, Devi Megawati, S.E.I., M.E.Sy., Ph.D., untuk mengikuti Training of Trainers (TOT) Kurikulum Ekoteologis dan Kurikulum Cinta yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjaminan Mutu UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat, 30–31 Juli 2026, bertempat di Ruang Aula Lantai III Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

TOT menghadirkan Farid F. Saenong, M.A., Ph.D. dan Dr. Atikah Syamsi, M.Pd. sebagai narasumber. Materi yang dibahas mencakup kebijakan nasional penguatan karakter di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, konsep dasar Kurikulum Ekoteologis, Kurikulum Cinta dan moderasi beragama, integrasi nilai ke dalam mata kuliah, penyusunan perangkat pembelajaran, serta praktik microteaching dan peer review.

Farid F. Saenong menjelaskan bahwa ekoteologi menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan dan moral. Manusia tidak hanya berperan sebagai pengguna sumber daya alam, tetapi juga sebagai khalifah yang menerima amanah untuk menjaga keseimbangan dan mencegah kerusakan di muka bumi.

Pembahasan tersebut menghubungkan prinsip tauhid, khalifah, amanah, mizan, dan larangan melakukan kerusakan dengan maqashid syariah, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, serta pengembangan green campus. Kampus hijau tidak hanya dipahami sebagai penyediaan infrastruktur ramah lingkungan, tetapi juga sebagai perubahan menyeluruh dalam kurikulum, penelitian, tata kelola, penggunaan energi dan air, pengelolaan sampah, serta pengabdian kepada masyarakat.

Kurikulum Cinta, pada sisi lain, diarahkan untuk membangun pendidikan yang menumbuhkan kemanusiaan, empati, penghormatan terhadap martabat manusia, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan penguasaan pengetahuan, tetapi juga perlu membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Cinta dan Simpati sebagai Gaya Hidup

Salah satu bagian menarik dalam kegiatan ini adalah kesempatan yang diberikan kepada peserta untuk menyampaikan tanggapan, pengalaman, dan umpan balik secara terbuka. Diskusi tidak berlangsung satu arah, tetapi berkembang menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana nilai cinta, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan dijalankan dalam keluarga, lingkungan pendidikan, dan kehidupan sosial.

Dr. Irpan Apandi Batubara, S.Pd., M.S. utusan dari Program Studi Magister Bahasa Inggris, menyampaikan bahwa cinta dan simpati semestinya tidak berhenti sebagai materi yang disampaikan di ruang kelas. Keduanya perlu menjadi lifestyle atau cara hidup yang dimulai dari kesadaran dan perilaku diri sendiri.

Pandangan tersebut menguat ketika pembahasan menyentuh persoalan perundungan atau bullying. Peserta merefleksikan bahwa perundungan tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan yang kasar dan mudah dikenali. Dalam keluarga dan lingkungan terdekat, misalnya, dapat muncul kebiasaan yang secara tidak langsung mengunggulkan warna kulit putih atau cerah dibandingkan kulit yang lebih gelap, atau memberikan penilaian negatif terhadap rambut keriting dan kribo.

Ungkapan, candaan, perbandingan, dan nada bicara yang terus diulang dapat memengaruhi kepercayaan diri seseorang. Karena dianggap biasa, praktik tersebut terkadang tidak disadari sebagai bentuk pelabelan yang dapat melukai orang lain. Kurikulum Cinta karena itu dimulai dari kesadaran diri atau self-awareness, yaitu kemampuan mengenali prasangka, pilihan kata, cara memberi penilaian, dan dampak perilaku terhadap orang lain.

Oleh karena itu, pencegahan perundungan tidak hanya menjadi tanggung jawab korban, guru, atau orang tua. Lingkungan yang sehat terbentuk ketika orang-orang di sekitarnya berani menolak perilaku yang merendahkan, membela pihak yang dirugikan, dan menggunakan mekanisme pengaduan yang tersedia.

Tidak Harus Menjadi Mata Kuliah Tersendiri

Kurikulum Cinta dan Kurikulum Ekoteologis tidak harus diwujudkan dalam bentuk mata kuliah baru yang berdiri sendiri. Nilai-nilainya dapat dimasukkan melalui insersi ke dalam mata kuliah yang relevan, baik dalam capaian pembelajaran, bahan kajian, metode pembelajaran, contoh kasus, penugasan, maupun asesmen.

Selain insersi, kegiatan ini memperkenalkan pendekatan “rembes”, yaitu penanaman nilai secara perlahan, konsisten, dan menyerap ke berbagai bagian proses pendidikan. Nilai cinta, empati, kepedulian, dan tanggung jawab ekologis tidak hanya dicantumkan dalam dokumen kurikulum, tetapi dihidupkan dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa, cara memberikan umpan balik, budaya diskusi, kegiatan akademik, dan lingkungan kampus.

Pendekatan tersebut dimulai dari kesadaran individu, kemudian berkembang menjadi kebiasaan bersama, dan pada akhirnya membentuk lingkungan akademik yang lebih aman, menghargai perbedaan, dan kondusif bagi semua pihak.

Pembahasan mengenai Kurikulum Cinta juga banyak menyentuh aspek psikologis. Narasumber secara terbuka mengonfirmasi sejumlah penjelasan kepada peserta yang berasal dari Program Studi Psikologi. Cara tersebut membuat diskusi lebih hidup sekaligus menunjukkan penghargaan terhadap kompetensi peserta.

Dr. Atikah Syamsi membawakan materi secara energik dan interaktif. Narasumber memahami bahwa peserta TOT merupakan para dosen, bahkan tidak sedikit utusan program studi yang telah menyandang jabatan profesor. Karena itu, proses pelatihan tidak disampaikan secara monoton atau menyerupai perkuliahan satu arah.

Peserta mengikuti beragam simulasi, diskusi, dan permainan peran. Salah satu simulasi meminta peserta menunjukkan reaksi ketika mendengar kalimat tertentu yang disampaikan dengan pilihan nada berbeda. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa makna sebuah pesan tidak hanya ditentukan oleh kata-kata, tetapi juga oleh intonasi, ekspresi, situasi, dan hubungan antara orang yang berbicara dan yang menerima pesan.

Relevansi bagi Magister Ekonomi Syariah

Dalam sesi tanggapan, Program Studi Magister Ekonomi Syariah menyampaikan bahwa nilai ekoteologis memiliki ruang yang kuat untuk diintegrasikan ke dalam kurikulum Prodi. Salah satu mata kuliah yang relevan adalah mata kuliah baru Sosiologi Ekonomi Melayu.

Mata kuliah tersebut dapat mengkaji hubungan antara aktivitas ekonomi, kebudayaan Melayu, struktur sosial, lingkungan, dan kehidupan masyarakat. Pembelajarannya dapat diperkuat melalui hasil-hasil penelitian lokal mengenai perubahan penggunaan lahan yang berdampak pada perubahan mata pencaharian, hubungan sosial, pola produksi, serta kehidupan masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, persoalan lingkungan tidak dibahas secara terpisah dari kehidupan ekonomi. Perubahan fungsi lahan, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan kerusakan ekologis, tetapi juga dapat mengubah sumber penghidupan, identitas komunitas, relasi kekuasaan, dan keberlanjutan kehidupan antargenerasi.

Hasil TOT ini selanjutnya akan disampaikan kepada pengelola dan dosen Program Studi Magister Ekonomi Syariah. Nilai-nilai yang diperoleh akan dipetakan dan diintegrasikan secara proporsional ke dalam mata kuliah, proses pembelajaran, penelitian, dan kegiatan akademik Prodi.

Melalui langkah tersebut, Program Studi Magister Ekonomi Syariah berkomitmen mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran diri, empati, tanggung jawab sosial, kepedulian ekologis, dan lingkungan akademik yang saling menghargai.

Leave a Reply